Sebagian orang masih hidup di Abad Romantis. Mereka cenderung yakin bahwa orang-orang jenius adalah hasil dari percikan ilahi. Mereka yakin bahwa di sepanjang zaman muncul teladan keagungan – Dante, Mozart, Einstein – yang punya talenta ‘supranatural’, jauh melampaui standar normal, yang cuma bisa kita kagumi tapi tak bisa kita tiru.
Tapi tentu saja sekarang kita ini hidup di Abad Ilmu, dan riset modern mencabik-cabik segala mitos. Pandangan ilmiah dominan sekarang, ternyata kemampuan Mozart semasa kecil pun bukanlah hasil dari suatu talenta supranatural. Karya-karya musiknya yang pertama sama sekali tidak istimewa. Hanya kumpulan potongan dari karya-karya orang lain. Mozart memang sudah menunjukkan bakat musik sejak dini, tapi tidak juga lebih hebat dari para pemusik kecil berbakat zaman ini.
Kelebihan Mozart, diyakini para ahli, sama seperti kelebihan yang dimiliki Tiger Woods – kemampuan untuk fokus dalam jangka waktu panjang dan seorang ayah yang serius mengasah bakat dan keterampilannya. Mozart memainkan piano terus-menerus sejak masih kecil, jadi dia sudah mebukukan 10,000 jam latihan pada usia muda dan dia berkembang dari situ.
Riset-riset terbaru menunjukkan dunia ini ternyata ‘demokratis’. Faktor kunci yang membedakan antara orang jenius dengan orang biasa-biasa saja bukanlah percikan ilahi. Bukanlah IQ yang menentukan kesuksesan, bahkan di wilayah seperti olahraga catur. Sebaliknya, yang menentukan adalah latihan yang dilakukan secara sadar dan terencana. Para pengukir prestasi akbar menghabiskan banyak waktu (sangat banyak jam latihan!) untuk mengasah kemahiran mereka secara ketat.
Riset Coyle dan Colvin memberi contoh lusinan eksperimen tentang proses membuat orang jadi melampaui rata-rata. Riset ini menghilangkan unsur ‘sihir’ dari prestasi-prestasi akbar orang-orang jenius. Riset ini sekaligus menggarisbawahi fakta yang sering diabaikan. Masyarakat terlalu terpaku pada urusan gen bawaan. Walau memang betul gen punya peran membentuk kapasitas kita, tetapi otak pada dasarnya luar biasa plastis, bisa dibentuk. Kita membangun diri kita sendiri melalui perilaku. Seperti yang diamati Coyle, yang penting bukan siapa kamu, tetapi apa yang kamu kerjakan.
David Brooks – NY Times

IQ gw 125 termasuk jenius ato standar???